Kembalinya Adipura yang Hilang

Penulis: Drs. H. Deni Nurdyana Hadimin, M. SI

Setelah 17 tahun menanti dengan harap-harap cemas, akhirnya warga Bandung kini boleh berbangga hati. Karena si anak hilang itu telah kembali ke pangkuan bumi pasundan. Hari ini Walikota Bandung Ridwan Kamil, atas nama dan mewakili 3 juta warga Bandung akan menerima anugerah Piala Adipura untuk progress kebersihan dan pembangunan hijau kota. Tidak perlu waktu terlalu lama, hanya 2 tahun setelah dilantik, RK bersama warga, Muspida dan jajaran Pemkot Bandung wabilkhusus PD Kebersihan sudah mengagas 40 lebih program baru untuk memastikan Bandung bisa lebih bersih dan lestari. Dan Alhamdulillah kerja keras seluruh komponen warga Bandung tersebut berbuah manis.

Adipura, adalah sebuah penghargaan bagi kota di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan (Wikipedia).

Penilaian terhadap Kota Bandung untuk penghargaan Adipura 2015 menjadi proses pembelajaran masyarakat agar semakin menyadari pentingnya membangun kebersihan lingkungan, sehingga semua upaya yang dilakukan untuk meraih Adipura tahun ini, tidak hanya semata untuk meraih skor penilaian tinggi, tetapi juga bentuk proses pembelajaran masyarakat menuju masyarakat yang sadar kebersihan lingkungan.

Berbagai upaya telah dilakukan pemkotBandung bersama masyarakat di Ibu Kota Provinsi Jawa Barat tersebut, untuk pencapaian penghargaan bidang kebersihan lingkungan, Adipura 2015. Saya memandang perlunya dibangun sebuah program berkesinambungan untuk membentuk masyarakat kotayang bergaya hidup cinta terhadap kebersihan lingkungan, lingkungan yang hijau dan teduh.

Raihan Piala Adipura ini tentu saja akan melengkapi berbagai prestasi yang telah dicapai selain prestasi Persib sebagai juara LSI dan Piala Presiden dan puluhan Penghargaan baik nasional maupun internasional. Meskipun selama ini persepsi orang tentang Adipura selalu diidentikan dengan masalah kebersihan, namun sebenarnya aspek yang dinilai relatif banyak dan lumayan kompleks seperti masalah drainase, ruang terbuka hijau dll.

Bobot tertinggi pada penilaian itu, adalah untuk pengelolaan sampah dan ruang terbuka hijau 95 persen, sedangkan pengendalian pencemaran air lima persen.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adipura, terdapat penambahan jumlah lokasi pantau dari 14 menjadi 15 titik serta perubahan pembobotan yang memengaruhi penilaian.

Fasilitas pengolahan sampah skala kota menjadi titik pantau baru atau menjadi titik pantau yang ke-15. Sedangkan untuk titik pantau dengan bobot nilai tertinggi adalah tempat pembuangan akhir sampah dengan bobot 11, fasilitas pengolahan sampah skala kota (10), pasar (8), dan bank sampah (7).

Adapun kunci utama dalam meraih Adipura tersebut adalah tentang kesadaran masyarakat terhadap pentingnya membangun sikap budaya bersih lingkungan.Tidak bisa dipungkiri, tidak mudah untuk membentuk ‘mindset’ sadar kebersihan lingkungan di kalangan masyarakat. Butuh waktu satu generasi untuk mengubah ‘mindset’ dan perilaku masyarakat untuk sadar akan kebersihan lingkungan. Mendapat penghargaan Adipura adalah sebuah kesempatan dan kehormatan untuk menaikkan status kota menjadi lebih baik. Namun, hal tersebut juga sejalan dengan tanggung jawab yang akan di emban setelahnya.

Penghargaan yang di dapat tersebut tidak semata-mata dalam bentuk simbol atau piala saja, namun bagaimana Adipura dapat dijadikan sebagai motivasi untuk terus membudayakan perilaku bersih setiap harinya.

Kata orang bijak meraih juara Adipura memang tidak mudah artinya perlu perjuangan dan upaya ekstra keras dari seluruh stackholder, akan tetapi mempertahannya jauh lebih sulit lagi. Karena beban Kota Bandung sebagai kota metropolitan sarat akan problematika seperti masalah banjir, kemacetan, pengendalian pembangunan di Bandung Utara dll.

Saat ini pembangunan gedung-gedung bertingkat semakin banyak. Termasuk juga rumah-rumah mewah, ladang-ladang dan persawahan yang masih hijau semakin berkurang setiap tiap hari. Memang bagai sebuah mata uang ada gambar dan angka. Begitu pula dengan masalah yang kita hadapi ini, adal pihak yang pro dan kontra. Akan tetapi, memang inilah realita yang harus kita lihat.

Tidak sedikit orang yang membentuk kelompok atau perkumpulan dengan bertujuan untuk melakukan penghijuan dan pelestarian terhadap lingkungan dan melakukan inovasi baru serta gerakan pembaruan dalam menjaga alam. Akan tetapi agaknya hal tersebut akan sia-sia tanpa ada kerjasama dan partisipasi dari badan-badan lingkungan hidup milik pemerintah, masyarakat dan juga individu kita sendiri.

Kita tidak mungkin menghentikan pembangunan untuk suatu kemajuan. Akan tetapi kiranya unsur-unsur kelestarian lingkungan harus menjadi bagian yang tidak dapat di nego. Harus perlu menggalakkan kegiatan yang bervisikan penghijauan. Peran serta pemerintah yang harus keras dan tegas dalam memberikan punisment kepada para perusak dan pencemar lingkungan, baik yang dilakukan oleh perseorangan ataupun perusahaan yang tidak memiliki sejenis Unit Pengelolaan Limbah, pengembang yang tidak memiliki visi go greendalam dalam operasionalnya.

Penghargaan Adipura adalah buah kerja keras dan kerja cerdas dari seluruh komponen warga masyarakatKota Bandung. Namun hendaknya pencapaian perhargaan Adipura ini bukan menjadi tujuan akhir dari sebuah perjuangan. Penghargaan Adipura hanyalah sebuah sarana dalam bentuk rewards dari pemerintah pusat atas kerja keras dan cerdas tersebut. Tujuan sejatinya adalah tertanamnya budaya hidup bersih, indah, tertib, aman, dan nyaman di seluruh sanubari warga masyarakat tanpa kecuali.

Apresiasi setinggi-tingginya perlu diberikan kepada seluruh komponen warga Kota Bandung atas partisipasinya yang tak pernah mengenal letih dan lelah dalam menjaga, memelihara, dan mempertahan Kota Bandung yang bersih, indah, tertib, aman, dan nyaman. Kalaupun masih ada suara-suara miring dari sebagian komponen masyarakat, semua itu harus disikapi secara cerdas oleh seluruh komponen masyarakat untuk bekerja lebih baik lagi di kemudian hari.

Gerakan Pungut Sampah (GPS)

Seluruh komponen warga Masyarakat Kota Bandung tidak sepantasnya berpuas diri atas prestasi yang telah diraih. Ungkapan secara bijak mengatakan: “Meraih prestasi lebih mudah dibandingkan mempertahan prestasi tersebut”. Oleh karena itu seluruh komponen warga masyarakat harus tetap menjaga elan vital dan tetap bersemangat untuk mewujudkan Kota Bandung yang juara dalam bidang kebersihan.

Gerakan Pungut Sampah diharapkan mampu menghimpun kembali energi seluruh komponen masyarakat Kota Bandung dalam menjaga kebersihan dan estetika lingkungan, baik di lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan kerja. Selain itu gerakan ini juga diharapkan mampu menggelorakan kembali partisipasi seluruh komponen masyarakat dalam membangun, memelihara, dan menumbuhkan berbagai sarana publik. Antara lain berupa ruang terbuka hijau (RTH), taman-taman kota dan sebagainya.

Jujur kita akui, selama beberapa waktu terakhir partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan dan keindahan kota nyaris pudar, terlebih setelah 17 tahun Kota Bandung absen menggondol piala tersebut. Bahkan pasca kejadian longsornya TPA Leuwi Gajah, warga Bandung nyaris apatis dan berputus asa untuk mendapatkan piala bergensi tersebut.

Pengalaman telah secara arif mengajarkan kepada kita, tanpa peran aktif seluruh komponen masyarakat, sebagus apapun program digulirkan, hasil akhirnya tidak akan tercapai secara optimal. Untuk itu program ini harus didukung secara luas oleh masyarakat, baik secara individu, komunitas, maupun kelembagaan.

Lingkup program itu mencakup seluruh sendi kehidupan masyarakat, mulai dari lingkungan rumah, perkantoran, pusat-pusat keramaian, pasar, pusat perbelanjaan, sekolah-sekolah, rumah sakit, masjid, mushola, alun-alun, hingga jalanan umum. Semua itu membutuhkan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan, utamanya masyarakat luas.

Tidaklah elok, lingkungan rumah dan perkantoran bersih, namun di jalanan umum bertebaran kotoran kuda, atau lingkungan pasar yang kumuh, becek, dan berbau menyengat. Sinergi itu harus dibangun diantara seluruh komponen masyarakat, termasuk di kalangan kaum muda. Kita merasa prihatin hingga kini masih banyak kita jumpai grafiti liar berupa corat-coret di tembok rumah pinggir jalan, kolong jembatas Pasopati, rolling door toko, pagar pinggir jalan, rambu-rambu lalu lintas, dan fasilitas umum lain yang mengganggu estetika dan keindahan.

Kegemaran membuat grafiti liar dan corat-coret fasilitas umum yang menjurus pada tindakan vandalisme tersebut sebenarnya dapat disalurkan melalui kegiatan yang positif. Antara lain dengan penyelenggaraan lomba melukis gambar dinding (mural) yang lebih bernilai estetika dan seni. Apalagi Kota Bandung memiliki ITB dan beberapa Universitas yang memdalami masalah seni.

Untuk membuat Kota Bandung yang hijau dan asri perlu digalakkan upaya menanami setiap jengkal tanah kosong dengan pepohonan. Pepohonan mempunyai arti penting, bukan saja dalam menjaga kualitas lingkungan, namun juga menyangkut nilai-nilai religius. Untuk menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, Nabi Muhammad SAW pernah menegaskan “Tanamlah bibit pohon yang ada di tanganmu sekarang juga meskipun besok kiamat. Niscaya Allah akan tetap memperhitungkan pahalanya”.

Ditinjau dari sudut manapun gerakan hidup bersih, indah, tertib, aman, dan nyaman, sangat dianjurkan. Agama kita telah secara arif mengajarkan bahwa “Kebersihan itu adalah sebagian dari iman”. Oleh karena itu Kota Bandung sebagai kota metropolitan yang ramah terhadap lingkungan menjadi idaman kita semua.

Akhirnya, marilah kita bersama-sama menambah misi dalam diri kita untuk tetap selalu menjaga dan melestarikan Kota Bandung tercinta ini. Bebas dari sampah serta menjadikan kota tempat tinggal kita berkualitas secara ekonomi, kesehatan dan lingkungan.

Di akhir tulisan ini saya ingin mengajak seluruh warga Kota Bandung untuk menyambut seruan dari Walikota melalui kicauan Twitternya yang berbunyi “Mari bekerja lebih giat lagi. Mari jaga kebersihan kota ini bersama-sama. Mari kita cintai Bandung ini seperti kita mencintai ibu kita sendiri.”

 Penulis adalah Direktur Utama PD Kebersihan Kota Bandung