Category Archives: ARTIKEL

Kantong Plastik Tidak Gratis, Zalim Atau Solusi?

AM38GT Man looking at bill in grocery store. Image shot 2007. Exact date unknown.

Penulis: @gungunsaptari

Kantong plastik berbayar itu zalim !!!

Statement ini sempat menghebohkan netizen ketika KLHK didukung oleh beberapa kota menerapkan kebijakan Kantong Plastik Tidak Gratis. Argumen yang disampaikan cukup masuk akal juga dan menjadi kegelisahan yang sama bagi saya selaku penggiat lingkungan juga. Dan memang ini masih jadi pekerjaan rumah pemerintah dan juga kita semua.

Namun pada paparan ini, saya ingin coba fokus pada #DietKantongPlastik yang mudah-mudahan menjadi pembuka wawasan pembaca terkait munculnya kebijakan kantong plastik tidak gratis yang sesungguhnya hasil dari perjuangan para penggiat lingkungan juga (usulan petisi via change.org yang sudah ditandatangani lebih dari 60.000 orang)

Kantong plastik selama ini sering digunakan sebagai alat untuk membungkus belanjaan kita. Namun sadarkah kita bahwa dibalik manfaatnya tersebut ternyata kantong plastik memiliki potensi masalah yang sangat besar. Potensi masalah yang dahulu jarang disadari tetapi sekarang sudah mulai terasa.

Berikut fakta-fakta yang bisa jadi akan mencengangkan anda :

  1. Sampah plastik sangat sulit terurai, sebagian sumber mengatakan minimal butuh waktu 400 tahununtuk sampai terurai
  2. Lebih dari 1 juta kantong plastik yang digunakan setiap menitnya mayoritasnya berakhir menjadi sampah, bahkan 50 % sampah plastik hanya digunakan sekali & langsung jadi sampah.
  3. Jika disusun, jumlah sampah kantong plastik saat ini bisa mengelilingi bumi hingga 4x
  4. Setiap tahun produksi plastik menghabiskan sekitar 8 % hasil produksi minyak dunia atau sekitar 12 juta barel minyakdan 14 juta pohon.
  5. Yuk sama-sama kita hitung jika seandainya satu gerai menghasilkan 300 kantong plastik sehari dan ada 100 gerai yang melakukan hal yang sama maka 1 tahun dihasilkan 10,95 juta lembar sampah kantong plastikyang jika dihamparkan maka sampah akan menutupi 65,7 ha = 60 luas lapangan sepakbola
  6. Mari kita hitung dari data pengusaha yang tergabung dalam asosiasi pengusaha yang mencapai angka 32.000 gerai. Jika potensi sampah kantong plastik dari anggota asosiasi tsb dihitung maka jumlahnya mencapai 9,6 juta lembar perhari yang setara luasnya  21.024 ha per tahun. Jumlah ini jika dihamparkan mampu menutupi seluruh permukaan Kota Bandung. Berat sampah kantong plastik tersebut setara dengan 68 x berat airbus A380. Volume sampah plastik tsb setara dengan 353 kali volume candi borobudur.

Ini baru menghitung dari yang gerai yang tergabung dengan APRINDO. Bagaimana dari yang belum bergabung, toko-toko, kios-kios di pasar, PKL, rumah tangga dll tentu luar biasa banyaknya.

 #Nah malunya Indonesia ternyata hari ini adalah negara kedua terbanyak di dunia sebagai penyumbang sampah plastik ke laut (Jambeck at al, 2015) setelah Cina.  Salah satu kawan saya, @junerosano (penggagas #DietKantongPlastik) juga pernah bercerita bahwa beliau pernah hadir dalamWorld Economic Forum, disana disampaikan bahwa pada tahun 2020 jumlah sampah plastik di Indonesia diprediksi lebih banyak dibanding jumlah ikan di negeri ini.

Semoga fakta-fakta ini menggugah anda bahwa sampah kantong plastik yang selama ini dianggap sepele ternyata hari ini tidak bisa dianggap enteng.

Benar memang masalah lingkungan di Indonesia dan dunia tidak hanya urusan kantong plastik dan masih banyak PR yang lebih besar. Namun ada satu kaidah dalam fiqih yang saya pahami

“Jika tidak bisa menyelesaikan semua, Jangan tinggalkan semua”

Jadi dalam pandangan saya, mudah-mudahan kebijakan kantong plastik tidak gratis ini menjadi penggerak bola salju kebijakan-kebijakan lain yang bisa memiliki dampak lebih kuat dalam mengatasi permasalahan lingkungan di Indonesia maupun di dunia. Dan saya sangat mengapresiasi perjuangan para penggiat lingkungan, KLHK, Pemerintah Daerah, APRINDO dan semua pihak  yang berani mendorong kebijakan kantong plastik tidak gratis ini. Mari sama-sama kita dorong kebijakan-kebijakan lain yang  berdampak signifikan terhadap lestarinya bumi ini.

Sebagai informasi juga, Indonesia bukan negara pertama yang menerapkan kebijakan ini, sudah ada 78 negara lain dari mulai bostnawa hingga malaysia yang sudah lebih dahulu menerapkan kebijakan ini. Bahkan negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura dan Vietnam sudah lebih dulu dari Indonesia.

Di sisi yang lain, memang ada bagian yang memang masih perlu disempurnakan kaitan dengan kebijakan ini, yaitu kaitan dengan penggunaan dana pembayaran kantong plastik ini yang perlu diperjelas regulasinya. Jika memang donasi, maka perlu diperkuat payung hukumnya dan dibuat panduan termasuk pengawasannya yang ketat. Dan saya rasa ini juga sedang digodog oleh KLHK dan juga pemerintah, kita tunggu saja seperti apa detailnya.

Bagaimana sikap kita sebagai konsumen ? Ya saya pikir gampang saja, tinggal bawa kantong belanja sendiri  dan ajak orang lain melakukan hal yang sama agar potensi negatif sampah kantong plastik bisa kita minimalisir.

Selamat #DietKantongPlastik

Penulis adalah Direktur Umum PD Kebersihan Bandung, Ketua Gerakan Sejuta @BioporiBDG, dan Anggota Forum Bandung Juara Bebas Sampah.

Mari Olah Sampah Kita dengan Lubang Resapan Biopori

Foto Sejuta Biopori

Penulis :  @gungunsaptari

Teknologi lubang resapan biopori (LRB) merupakan salah satu teknologi sederhana, namun memiliki multimanfaat.

Teknologi ini dikembangkan oleh Prof Kamir Brata dari Bogor. Prinsip LRB adalah, secara sengaja menciptakan lingkungan yang menghasilkan biopori di dalam tanah dengan cara membuat lubang berdiameter 10 centimeter dengan kedalaman sekitar 1 meter.

Lubang tersebut kemudian diisi oleh sampah organik (sisa makanan dan tumbuhan). Keberadaan sampah organik di dalam lubang tersebut menstimulus biota-biota di dalam tanah untuk membuat biopori.

Biopori sendiri adalah lubang dan rongga di dalam tanah yang merupakan hasil dari pergerakan biota-biota di dalam tanah. Untuk diketahui, tanah yang subur memiliki banyak biopori.

Manfaat LRB di antaranya sebagai media sampah organik (media pembuatan kompos), meresapkan air dan mengurangi genangan air, media tabungan air, serta menyuburkan tanah.

Pembuatan LRB diawali dengan penentuan titik-titik lokasi. Lokasi yang tepat untuk membuat LRB adalah lokasi dimana air secara alami berkumpul ataupun jalur yang dibuat sebagai tempat penampung aliran air. Sedangkan jarak antarlubang minimal sekitar 50 centimeter.

Selanjutnya, siapkan bor biopori, pencongkel tanah, dan penampung tanah dan air (karung). Setelah semua peralatan siap, siram tanah dengan air agar lebih lunak. Dengan menggunakan bor biopori, buatlah lubang berdiameter 10 centimeter dengan kedalaman satu meter pada titik yang telah ditentukan.

Gunakan pencongkel tanah untuk membersihkan bor dan simpanlah tanah galian ke dalam karung. Setelah lubang terbentuk, masukkan sampah organik ke dalam lubang tersebut. LRB pun telah selesai dibuat.

Jangan lupa, LRB terus diisi sampah organik (jangan sampai kosong). Setiap 2-3 bulan sekali, kompos dapat dipanen dengan cara menggali kembali LRB menggunakan bor biopori. Di beberapa kawasan, untuk mempercantik dan menguatkan bibir LRB, bisa ditambahkan semen di bibir lubang atau penutup.

Setiap LRB mampu menampung sekitar 7,857 liter sampah organik. LRB juga mampu meresapkan air minimal sekitar 7,857 liter dan bisa lebih banyak lagi (karena terserap tanah), tergantung kondisi tanah di sekitar LRB. Semakin banyak LRB yang dibuat, maka dampak positifnya terhadap lingkungan pun akan semakin besar.

Mari bergabung dalam Gerakan Sejuta Biopori dengan cara membuat sebanyak mungkin LRB di rumah dan lingkungan masing-masing, mari kurangi risiko banjir dengan LRB, dan mari olah sampah organik dari rumah masing-masing menggunakan LRB.

Penulis adalah Direktur Umum PD Kebersihan Bandung, Ketua Gerakan Sejuta Biopori, dan Anggota Forum Bandung Juara Bebas Sampah.

Kembalinya Adipura yang Hilang

Penulis: Drs. H. Deni Nurdyana Hadimin, M. SI

Setelah 17 tahun menanti dengan harap-harap cemas, akhirnya warga Bandung kini boleh berbangga hati. Karena si anak hilang itu telah kembali ke pangkuan bumi pasundan. Hari ini Walikota Bandung Ridwan Kamil, atas nama dan mewakili 3 juta warga Bandung akan menerima anugerah Piala Adipura untuk progress kebersihan dan pembangunan hijau kota. Tidak perlu waktu terlalu lama, hanya 2 tahun setelah dilantik, RK bersama warga, Muspida dan jajaran Pemkot Bandung wabilkhusus PD Kebersihan sudah mengagas 40 lebih program baru untuk memastikan Bandung bisa lebih bersih dan lestari. Dan Alhamdulillah kerja keras seluruh komponen warga Bandung tersebut berbuah manis.

Adipura, adalah sebuah penghargaan bagi kota di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan (Wikipedia).

Penilaian terhadap Kota Bandung untuk penghargaan Adipura 2015 menjadi proses pembelajaran masyarakat agar semakin menyadari pentingnya membangun kebersihan lingkungan, sehingga semua upaya yang dilakukan untuk meraih Adipura tahun ini, tidak hanya semata untuk meraih skor penilaian tinggi, tetapi juga bentuk proses pembelajaran masyarakat menuju masyarakat yang sadar kebersihan lingkungan.

Berbagai upaya telah dilakukan pemkotBandung bersama masyarakat di Ibu Kota Provinsi Jawa Barat tersebut, untuk pencapaian penghargaan bidang kebersihan lingkungan, Adipura 2015. Saya memandang perlunya dibangun sebuah program berkesinambungan untuk membentuk masyarakat kotayang bergaya hidup cinta terhadap kebersihan lingkungan, lingkungan yang hijau dan teduh.

Raihan Piala Adipura ini tentu saja akan melengkapi berbagai prestasi yang telah dicapai selain prestasi Persib sebagai juara LSI dan Piala Presiden dan puluhan Penghargaan baik nasional maupun internasional. Meskipun selama ini persepsi orang tentang Adipura selalu diidentikan dengan masalah kebersihan, namun sebenarnya aspek yang dinilai relatif banyak dan lumayan kompleks seperti masalah drainase, ruang terbuka hijau dll.

Bobot tertinggi pada penilaian itu, adalah untuk pengelolaan sampah dan ruang terbuka hijau 95 persen, sedangkan pengendalian pencemaran air lima persen.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adipura, terdapat penambahan jumlah lokasi pantau dari 14 menjadi 15 titik serta perubahan pembobotan yang memengaruhi penilaian.

Fasilitas pengolahan sampah skala kota menjadi titik pantau baru atau menjadi titik pantau yang ke-15. Sedangkan untuk titik pantau dengan bobot nilai tertinggi adalah tempat pembuangan akhir sampah dengan bobot 11, fasilitas pengolahan sampah skala kota (10), pasar (8), dan bank sampah (7).

Adapun kunci utama dalam meraih Adipura tersebut adalah tentang kesadaran masyarakat terhadap pentingnya membangun sikap budaya bersih lingkungan.Tidak bisa dipungkiri, tidak mudah untuk membentuk ‘mindset’ sadar kebersihan lingkungan di kalangan masyarakat. Butuh waktu satu generasi untuk mengubah ‘mindset’ dan perilaku masyarakat untuk sadar akan kebersihan lingkungan. Mendapat penghargaan Adipura adalah sebuah kesempatan dan kehormatan untuk menaikkan status kota menjadi lebih baik. Namun, hal tersebut juga sejalan dengan tanggung jawab yang akan di emban setelahnya.

Penghargaan yang di dapat tersebut tidak semata-mata dalam bentuk simbol atau piala saja, namun bagaimana Adipura dapat dijadikan sebagai motivasi untuk terus membudayakan perilaku bersih setiap harinya.

Kata orang bijak meraih juara Adipura memang tidak mudah artinya perlu perjuangan dan upaya ekstra keras dari seluruh stackholder, akan tetapi mempertahannya jauh lebih sulit lagi. Karena beban Kota Bandung sebagai kota metropolitan sarat akan problematika seperti masalah banjir, kemacetan, pengendalian pembangunan di Bandung Utara dll.

Saat ini pembangunan gedung-gedung bertingkat semakin banyak. Termasuk juga rumah-rumah mewah, ladang-ladang dan persawahan yang masih hijau semakin berkurang setiap tiap hari. Memang bagai sebuah mata uang ada gambar dan angka. Begitu pula dengan masalah yang kita hadapi ini, adal pihak yang pro dan kontra. Akan tetapi, memang inilah realita yang harus kita lihat.

Tidak sedikit orang yang membentuk kelompok atau perkumpulan dengan bertujuan untuk melakukan penghijuan dan pelestarian terhadap lingkungan dan melakukan inovasi baru serta gerakan pembaruan dalam menjaga alam. Akan tetapi agaknya hal tersebut akan sia-sia tanpa ada kerjasama dan partisipasi dari badan-badan lingkungan hidup milik pemerintah, masyarakat dan juga individu kita sendiri.

Kita tidak mungkin menghentikan pembangunan untuk suatu kemajuan. Akan tetapi kiranya unsur-unsur kelestarian lingkungan harus menjadi bagian yang tidak dapat di nego. Harus perlu menggalakkan kegiatan yang bervisikan penghijauan. Peran serta pemerintah yang harus keras dan tegas dalam memberikan punisment kepada para perusak dan pencemar lingkungan, baik yang dilakukan oleh perseorangan ataupun perusahaan yang tidak memiliki sejenis Unit Pengelolaan Limbah, pengembang yang tidak memiliki visi go greendalam dalam operasionalnya.

Penghargaan Adipura adalah buah kerja keras dan kerja cerdas dari seluruh komponen warga masyarakatKota Bandung. Namun hendaknya pencapaian perhargaan Adipura ini bukan menjadi tujuan akhir dari sebuah perjuangan. Penghargaan Adipura hanyalah sebuah sarana dalam bentuk rewards dari pemerintah pusat atas kerja keras dan cerdas tersebut. Tujuan sejatinya adalah tertanamnya budaya hidup bersih, indah, tertib, aman, dan nyaman di seluruh sanubari warga masyarakat tanpa kecuali.

Apresiasi setinggi-tingginya perlu diberikan kepada seluruh komponen warga Kota Bandung atas partisipasinya yang tak pernah mengenal letih dan lelah dalam menjaga, memelihara, dan mempertahan Kota Bandung yang bersih, indah, tertib, aman, dan nyaman. Kalaupun masih ada suara-suara miring dari sebagian komponen masyarakat, semua itu harus disikapi secara cerdas oleh seluruh komponen masyarakat untuk bekerja lebih baik lagi di kemudian hari.

Gerakan Pungut Sampah (GPS)

Seluruh komponen warga Masyarakat Kota Bandung tidak sepantasnya berpuas diri atas prestasi yang telah diraih. Ungkapan secara bijak mengatakan: “Meraih prestasi lebih mudah dibandingkan mempertahan prestasi tersebut”. Oleh karena itu seluruh komponen warga masyarakat harus tetap menjaga elan vital dan tetap bersemangat untuk mewujudkan Kota Bandung yang juara dalam bidang kebersihan.

Gerakan Pungut Sampah diharapkan mampu menghimpun kembali energi seluruh komponen masyarakat Kota Bandung dalam menjaga kebersihan dan estetika lingkungan, baik di lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan kerja. Selain itu gerakan ini juga diharapkan mampu menggelorakan kembali partisipasi seluruh komponen masyarakat dalam membangun, memelihara, dan menumbuhkan berbagai sarana publik. Antara lain berupa ruang terbuka hijau (RTH), taman-taman kota dan sebagainya.

Jujur kita akui, selama beberapa waktu terakhir partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan dan keindahan kota nyaris pudar, terlebih setelah 17 tahun Kota Bandung absen menggondol piala tersebut. Bahkan pasca kejadian longsornya TPA Leuwi Gajah, warga Bandung nyaris apatis dan berputus asa untuk mendapatkan piala bergensi tersebut.

Pengalaman telah secara arif mengajarkan kepada kita, tanpa peran aktif seluruh komponen masyarakat, sebagus apapun program digulirkan, hasil akhirnya tidak akan tercapai secara optimal. Untuk itu program ini harus didukung secara luas oleh masyarakat, baik secara individu, komunitas, maupun kelembagaan.

Lingkup program itu mencakup seluruh sendi kehidupan masyarakat, mulai dari lingkungan rumah, perkantoran, pusat-pusat keramaian, pasar, pusat perbelanjaan, sekolah-sekolah, rumah sakit, masjid, mushola, alun-alun, hingga jalanan umum. Semua itu membutuhkan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan, utamanya masyarakat luas.

Tidaklah elok, lingkungan rumah dan perkantoran bersih, namun di jalanan umum bertebaran kotoran kuda, atau lingkungan pasar yang kumuh, becek, dan berbau menyengat. Sinergi itu harus dibangun diantara seluruh komponen masyarakat, termasuk di kalangan kaum muda. Kita merasa prihatin hingga kini masih banyak kita jumpai grafiti liar berupa corat-coret di tembok rumah pinggir jalan, kolong jembatas Pasopati, rolling door toko, pagar pinggir jalan, rambu-rambu lalu lintas, dan fasilitas umum lain yang mengganggu estetika dan keindahan.

Kegemaran membuat grafiti liar dan corat-coret fasilitas umum yang menjurus pada tindakan vandalisme tersebut sebenarnya dapat disalurkan melalui kegiatan yang positif. Antara lain dengan penyelenggaraan lomba melukis gambar dinding (mural) yang lebih bernilai estetika dan seni. Apalagi Kota Bandung memiliki ITB dan beberapa Universitas yang memdalami masalah seni.

Untuk membuat Kota Bandung yang hijau dan asri perlu digalakkan upaya menanami setiap jengkal tanah kosong dengan pepohonan. Pepohonan mempunyai arti penting, bukan saja dalam menjaga kualitas lingkungan, namun juga menyangkut nilai-nilai religius. Untuk menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, Nabi Muhammad SAW pernah menegaskan “Tanamlah bibit pohon yang ada di tanganmu sekarang juga meskipun besok kiamat. Niscaya Allah akan tetap memperhitungkan pahalanya”.

Ditinjau dari sudut manapun gerakan hidup bersih, indah, tertib, aman, dan nyaman, sangat dianjurkan. Agama kita telah secara arif mengajarkan bahwa “Kebersihan itu adalah sebagian dari iman”. Oleh karena itu Kota Bandung sebagai kota metropolitan yang ramah terhadap lingkungan menjadi idaman kita semua.

Akhirnya, marilah kita bersama-sama menambah misi dalam diri kita untuk tetap selalu menjaga dan melestarikan Kota Bandung tercinta ini. Bebas dari sampah serta menjadikan kota tempat tinggal kita berkualitas secara ekonomi, kesehatan dan lingkungan.

Di akhir tulisan ini saya ingin mengajak seluruh warga Kota Bandung untuk menyambut seruan dari Walikota melalui kicauan Twitternya yang berbunyi “Mari bekerja lebih giat lagi. Mari jaga kebersihan kota ini bersama-sama. Mari kita cintai Bandung ini seperti kita mencintai ibu kita sendiri.”

 Penulis adalah Direktur Utama PD Kebersihan Kota Bandung