Category Archives: BERITA

Demi Nama Baik Kota Bandung, PD Kebersihan All Out Dukung PON Jabar

Deni Nurdyana

BANDUNG – Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan Kota Bandung berupaya maksimal dalam mendukung pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 Jawa Barat yang akan dibuka resmi di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gede Bage, Kota Bandung.

Direktur Utama PD Kebersihan Kota Bandung Deni Nurdyana Hadimin menyatakan, pihaknya akan mendukung penuh pelaksanaan PON, terutama saat pembukaan acara di Stadion GBLA.

Sedikitnya 600 petugas kebersihan akan diterjunkan dalam upacara pembukaan PON yang akan digelar 17 September mendatang. Selain petugas kebersihan, pihaknya juga akan menyediakan armada pengangkut dan kontainer sampah.

“Ke-600 penyapu itu akan diberikan kaos dan nonton gratis pembukaan PON. Setelah selesai acara, mereka akan melakukan gerakan pungut sampah,” tutur Deni kepada pdkebersihanbdg.go.id di sela-sela kerja bakti menjelang PON di Stadion GBLA, Kota Bandung, Minggu (4/9).

Deni melanjutkan, pihaknya akan berupaya menjaga citra Kota Bandung dari sisi kebersihannya. Terlebih, selain sebagai tuan rumah PON, Kota Bandung juga belum lama ini meraih Piala Adipura.

“Kebersihan itu vital, masa banyak sampah. Ini juga demi nama baik Kota Bandung, apalagi Kota Bandung baru dapat Adipura. Jadi, sebagai tuan rumah PON, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus siap, pokoknya kita all out,” paparnya.

Selain di Stadion GBLA, pihaknya juga akan menyiagakan petugas kebersihan dan armada pengangkut sampah di venue-venue PON lainnya di Kota Bandung, agar seluruh venue PON di Kota Bandung terjaga kebersihannya.

Bahkan, untuk mengantisipasi lonjakan volume sampah karena banyaknya pengunjung yang datang ke Kota Bandung saat PON digelar, pihaknya juga akan menggenjot kinerja para petugas kebersihan.

“Kemungkinan kita akan tambah shift karena akan banyak orang yang datang ke Kota Bandung, seperti di Alun-alun Bandung. Kita akan bekerja ekstra mendukung PON,” tegas Deni.

Disinggung apakah pelaksanaan PON akan mengganggu rutinitas para petugas kebersihan dalam penanganan sampah warga Kota Bandung, Deni menyatakan, penanganan sampah warga Kota Bandung tetap berjalan seperti biasa. Sebab, pihaknya telah mengatur pembagian jadwal kerja agar sampah warga Kota Bandung pun tertangani dengan baik.

“Kalau hari biasa, petugas rutin bekerja di setiap wilayah. Pembukaan PON kan sore ke malam, jadi paginya mereka tetap bekerja setiap biasa. Kami juga sudah Antisipasi hal ini sejak jauh-jauh hari,” tandas Deni.

Masih di tempat yang sama, menjelang pembukaan PON yang kurang dari dua pekan lagi, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menyatakan, seluruh venue PON di Kota Bandung telah siap digunakan.

“Semua venue di Kota Bandung sudah siap 100 %,” ujar Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil.

Bahkan, untuk menambah meriah pelaksanaan PON di Kota Bandung, Emil mengatakan, kota yang dipimpinnya juga dihias oleh dekorasi-dekorasi bertema PON.

“Kami siap menyukseskan PON, Jabar Kahiji,” tegas Emil.

Demi Kota Bandung yang Lebih Baik, Oded Berpesan PD Kebersihan Maksimalkan Kolaborasi

oded pd kebersihan
BANDUNG – Wakil Wali Kota Bandung Oded M Danial berpesan agar seluruh jajaran Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan Kota Bandung memaksimalkan kolaborasi demi Kota Bandung yang lebih baik.

Pasalnya, menurut Oded, jika semua potensi yang ada bersatu, dirinya sangat yakin energi yang terbentuk akan sangat luar biasa untuk membangun Kota Bandung.

“Oleh kerena itu, mari kita bekerja sama untuk membangun Kota Bandung yang lebih nyaman dan sejahtera,” tutur Oded saat memimpin apel pagi dalam rangka launching seragam baru dan pemberian zakat mal di lingkungan PD Kebersihan Kota Bandung, Senin (22/8/2016).

Oded menyebutkan, kolaborasi merupakan salah satu dari tiga pilar yang menjadi landasan dalam membangun sebuah kota. Selain kolaborasi, sebut Oded, pilar lainnya adalah inovasi dan desentralisasi.

“Inovasi, kolaborasi dan desentralisasi. Ketiga pilar tersebut menguatkan Kota Bandung semakin maju, khususnya dalam hal kebersihan,” katanya.

Dan untuk menjalankan ketiga pilar itu, lanjut Oded, diperlukan keikhlasan dan kemampuan berekspresi dalam bekerja, salah satunya ikhlas dalam menjalankan tugas.

“Oleh karena itu, hanya orang yang memiliki keikhlasan yang mampu mengendalikan dirinya untuk bekerja sejujur mungkin. Jadi, bangunlah Kota Bandung, khususnya dalam bidang kebersihan dengan dibarengi dengan keikhlasan,” tuturnya.

Selain itu, Oded pun mengatakan, sifat saling menghargai dan memberikan perhatian yang baik harus selalu dikedepankan dalam menjalani kehidupan.

“Sesungguhnya Allah SWT mengatakan,┬ápotensi orang kecil itu jangan diremehkan. Dan rosul juga mengatakan, sesungguhnya Allah SWT membantu orang bukan karena keahlian atau kepiawaiannya dalam segala bidang, namun Allah SWT akan membantu orang-orang kecil dan lemah untuk bangkit dalam hidupnya,” terang Oded.

Oleh karena itu, kata Oded, setiap manusia harus ikhlas dengan takdir yang diterimanya karena Allah SWT menakdirkan manusia dengan kedudukannya berbeda-beda.

“Seperti di PD kebersihan ini, ada dirut, kabag, karyawan biasa, tim bebersih dan lain-lain. Kita harus dapat menerima takdir tersebut. Sebab sebaik-baiknya dan setinggi-tingginya jabatan manusia tidak akan diukur, tapi yang diukur oleh Allah yaitu kesabaran dan keihlasan umatnya dalam menjalankan hidup,” beber Oded.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Wali Kota Bandung Oded M Danial didampingi Direktur Utama PD Kebersihan Kota Bandung Deni Nurdyana menyerahkan seragam baru dan zakat mal kepada karyawan di lingkungan PD Kebersihan Kota Bandung.

Seragam diberikan secara simbolis kepada lima pegawai operasional dari Bidang Operasional Wilayah Bandung, Barat, Timur, Selatan, dan Utara serta Bidang Pengelolaan Akhir yang diwakili oleh Maryani (penyapu wilayah Bandung Selatan), Ega Suryana (penyapu Bandung Utara), Lia Diana (Penyapu Bandung Barat) dan Ai Hadianto (TPA/tempat pembuangan akhir). Sementara zakat mal diberikan kepada sepuluh orang pegawai PD Kebersihan Kota Bandung.

Beban Kerja Sangat Berat, Truk PD Kebersihan Cepat Rusak

truk pd kebersihan

BANDUNG – Dengan volume sampah hingga 1.500 ton/hari, Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan Kota Bandung berusaha memaksimalkan sarana dan prasarana yang ada untuk menangani sampah setiap harinya.

Salah satu sarana yang kerap jadi sorotan adalah minimnya jumlah truk pengangkut sampah yang dimiliki Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) tersebut. Alhasil, meskipun pelayanan pengelolaan sampah tertangani dengan baik, namun truk pengangkut sampah kerap menjadi korbannya.

Kepala Urusan Bengkel Wilayah Bandung Timur pada Bidang Teknik PD Kebersihan Kota Bandung Tono mengungkapkan, terbatasnya jumlah truk pengangkut sampah di Kota Bandung mengakibatkan truk-truk pengangkut sampah harus bekerja ekstra. Bahkan, Tono menyebut, beban kerja truk pengangkut sampah tersebut sangat berat.

“Bayangkan saja, ribuan ton sampah yang harus diangkut setiap harinya, namun jumlah truk terbatas. Mau tidak mau, truk-truk itu bekerja ekstra. Kalau tidak, sampah pasti menumpuk,” ungkap Tono kepada pdkebersihan.bandung.go.id, Jumat (12/8).

Maka tak heran, lanjut Tono, suku cadang truk pengangkut sampah pun seringkali mengalami kerusakan. Di saat seperti itulah, peran Tono sebagai teknisi diperlukan. Menurut dia, hampir setiap hari, ada saja truk yang datang ke bengkelnya untuk diperbaiki.

“Wajar saja jika sering rusak karena beban kerjanya memang sangat berat,” ucapnya.

Selain jumlahnya yang terbatas, Tono juga mengungkapkan, sebagian besar truk pengangkut sampah usianya sudah tidak muda lagi. Umumnya, truk pengangkut sampah milik PD Kebersihan Kota Bandung berusia lebih dari 10 tahun. Idealnya, kata Tono, dengan beban kerja yang sangat berat, setiap 5 tahun sekali, truk pengangkut sampah tersebut seharusnya diganti.

“Truk terbaru keluaran 2013, tapi itu pun jumlahnya bisa dihitung dengan jari,” sebutnya.

Tidak hanya itu, Tono menambahkan, medan yang berat menuju lokasi tempat pembuangan akhir (TPA) Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat (KBB) pun menjadi penyebab lain truk pengangkut sampah cepat rusak. Bahkan, kata Tono, akibat medan yang berat, kecelakaan pun sempat menimpa sejumlah truk pengangkut sampah.

“Ada yang terperosok, bahkan ada juga yang terguling karena jalan menuju TPA memang cukup berat. Apalagi, sampah yang diangkut pun sudah over capacity,” terang Tono.

Tono pun berharap, ke depan, Pemkot Bandung bisa menambah jumlah truk pengangkut sampah. Sehingga, pelayanan pengangkutan sampah bisa lebih optimal.

“Meskipun sekarang ada truk rental, namun penambahan truk memang sudah sangat mendesak. Mudah-mudahan ke depan jumlahnya ditambah. Sebab, mau tidak mau, truk pengangkut sampah memang ujung tombak pengelolaan sampah di Kota Bandung,” pungkasnya.

Beratnya beban kerja truk pengangkut sampah itu diakui Direktur Utama PD Kebersihan Kota Bandung Deni Nurdiana Hadimin. Disebutkan dia, truk pengangkut sampah yang kini beroperasi hanya 96 unit dari 105 unit truk milik PD Kebersihan Kota Bandung.

Dia juga mengakui, jumlah truk pengangkut sampah terbilang jauh dari ideal. Menurut dia, idealnya, diperlukan sekitar 150 unit truk pengangkut sampah untuk mengangkut 1.500 ton sampah setiap harinya.

Dia menambahkan, PD Kebersihan Kota Bandung sebelumnya pernah mendapat bantuan truk sampah dari Pemprov Jawa Barat. Setiap truk bantuan tersebut dilengkapi mesin press sampah. Namun, dia mengeluhkan kondisi truk bantuan tersebut.

“Saya cek tidak ada satu pun yang jalan. Ada di Gedebage, mesinnya tidak menyatu dengan unit, jadi ribet,” ungkapnya.

Padahal, kata Deni, truk dengan mesin press sampah bisa meningkatkan kapasitas daya angkut hingga dua kali lipat, bahkan lebih. Idealnya, kata Deni, Kota Bandung memiliki 10 hingga 15 unit truk seperti itu.

“Truk biasa itu kan daya angkutnya 4 ton, nah ini bisa 8 ton malah lebih. Harga truk dengan mesin press satu unitnya mencapai Rp1,5 miliar dan kita sudah mengajukan pembelian kepada Pemkot,” ujarnya seraya berharap, pengajuan tersebut bisa segera terealisasi.

Di Tempat Inilah Truk-truk Pengangkut Sampah Warga Bandung Timur Diperbaiki Berkala

truk sampah rusak
BANDUNG – Hilir mudik truk-truk pengangkut sampah bukanlah pemandangan yang asing bagi warga Kota Bandung.

Dengan volume sampah yang mencapai sekitar 1.500 ton per hari dan jumlah armada pengangkut sampah yang terbatas, ritase pengangkutan sampah di Kota Bandung bisa dikatakan padat.

Padatnya ritase pengangkutan sampah tentu berdampak pula pada kondisi armada pengangkut sampah. Truk-truk dengan ciri khas warna kuning itu tentunya membutuhkan perawatan berkala agar kinerjanya tetap maksimal.

Tak jauh dari Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, ada sebuah tempat yang dijadikan “bengkel resmi” truk-truk pengangkut sampah milik Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan Kota Bandung itu, khususnya truk pengangkut sampah yang beroperasi di kawasan timur Kota Bandung.

Di tempat itu, tepatnya di Taman Abdi Negara di kawasan Pasir Impun, Kota Bandung, perawatan rutin seperti ganti oli, kanvas rem, kopling, dilakukan secara berkala hingga dilakukan perbaikan jika truk tersebut mengalami kerusakan.

Ditemui pdkebersihan.bandung.go.id, Jumat (12/8), Tono, 45, Kepala Urusan Bengkel Wilayah Bandung Timur pada Bidang Teknik PD Kebersihan Kota Bandung mengungkapkan, hampir setiap hari, ada saja armada pengangkut sampah yang membutuhkan perawatan maupun perbaikan.

Menurut Tono, hal itu dikarenakan beban kerja truk-truk pengangkut sampah cukup berat. Setiap hari, truk-truk itu harus mengangkut sampah dari tempat pengolahan sementara (TPS) ke tempat pengolahan akhir (TPA) Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat minimal dua rit setiap hari.

Bahkan, kata Tono, jika ada truk yang rusak atau mogok, truk lainnya terpaksa harus “bekerja ekstra” hingga tiga rit sekali agar tidak terjadi penumpukkan sampah. Itulah yang menjadi salah satu penyebab truk-truk pengangkut sampah di Kota Bandung kerap rusak.

“Dan di tempat inilah truk-truk yang rusak itu diperbaiki. Hampir tiap hari ada saja truk yang datang ke sini minta perbaikan,” ungkap Tono yang mengaku sudah bekerja lebih dari 20 tahun di PD Kebersihan Kota Bandung.

Instalasi Biodigester Pasar Gedebage Butuh Perbaikan

reaktor pasar induk gedebage
BANDUNG – Hari menjelang siang saat pdkebersihan.bandung.go.id memasuki kawasan Pasar Induk Gedebage di kawasan Gedebage, Kota Bandung, Selasa (2/8/2016).

Setelah membayar retribusi pada petugas di pintu gerbang pasar, perjalanan pun kemudian dilanjutkan.
Hari itu, pdkebersihan.bandung.go.id hendak menelusuri keberadaan instalasi biodigester pengolah sampah di Pasar Induk Gedebage yang disebut-sebut terbesar di Indonesia.

Saat menyusuri jalan yang cukup lebar, para pedagang di kiri kanan jalan masih terlihat sibuk beraktivitas. Meskipun pasar induk itu biasanya tampak ramai saat dinihari hingga pagi, namun siang itu aktivitas jual beli masih terlihat ramai.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, instalasi biodigester Pasar Induk Gedebage berada di ujung kawasan pasar, tak jauh dari tempat pemrosesan sampah milik Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan Kota Bandung.

Setelah sempat bertanya kepada seorang petugas parkir yang menunjukkan lokasi biodigester, pdkebersihan.bandung.go.id akhirnya tiba di tempat pembuangan sementara (TPS) Terpadu Pasar Induk Gedebage. Tak jauh dari TPS itulah, lokasi instalasi biodigester berada.

Namun, saat tiba di lokasi tersebut, tak tampak adanya aktivitas. Hanya ada beberapa anak kecil yang tengah bermain di dekat dua bangunan besar berwarna hijau yang di atasnya diberi tulisan “Reaktor A” dan “Reaktor B”. Bahkan, pintu gerbang pun hanya terbuka sedikit.

Dilihat dari luar, instalasi biodigester yang diresmikan 23 September 2015 ini tampaknya memang butuh perhatian. Selain tidak adanya aktivitas, sejumlah peralatan dan sarana pendukung pun tak terawat. pdkebersihan.bandung.go.id pun memberanikan diri masuk sambil menyampaikan beberapa kali salam.

Tak lama kemudian, keluarlah seorang “petugas” dari dalam ruangan yang di bagian pintunya terdapat tulisan “Kantor”. Dia adalah Julianto, seorang pedagang pasar yang dipercaya untuk mengawasi instalasi biodigester tersebut.

Setelah berkenalan, pria yang akrab disapa Kang Ato itu mengajak berkeliling untuk melihat seluruh bagian instalasi biodigester. Diakui Kang Ato, meskipun sempat dioperasikan, instalasi biodigester itu memang sudah lama tak beroperasi.

“Sudah sekitar 5-6 bulan tak beroperasi, tapi dulu sempat beroperasi,” ungkap Kang Ato meyakinkan.

Dia kemudian menunjukkan beberapa bagian instalasi biodigester yang kondisinya rusak parah, salah satunya gas holder. Alat berupa balon itu berfungsi untuk menampung gas metan yang dihasilkan kedua reaktor pengolah sampah organik berkapasitas 2,5 ton itu.

Seperti diketahui, selain menghasilkan limbah cair yang bermanfaat bagi tanaman, biodigester pun menghasilkan gas metan yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Bahkan, pada biodigester berkapasitas besar, gas metan yang dihasilkan bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik.

“Selain balon yang pecah, salah satu alat yang berfungsi sebagai indikator gas metan pun rusak,” tambah Kang Ato.

Tidak hanya itu, kerusakan pun terjadi pada bagian utama instalasi biodigester, yakni mesin pencacah sampah. Saat ini, mesin tersebut mati total. Bahkan, saat ditunjukkan Kang Ato, tampak jelas jika mesin pencacah itu sudah lama tak dipakai. Hal itu tampak jelas dari beberapa bagian mesin yang terlihat berkarat.

“Jika memang dianggap terbengkalai, saya akui memang terbengkalai. Tapi, bukan berarti tidak bisa dioperasikan. Butuh beberapa perbaikan agar instalasi ini bisa kembali beroperasi,” terang Kang Ato.

Untuk diketahui, instalasi biodigester di Pasar Induk Gedebage merupakan pilot project biodigester kapasitas terbesar pertama di Indonesia dengan bahan baku sampah organik pasar.

Pilot project itu bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dan lembaga lokal tentang cara-cara untuk mengurangi dampak perubahan iklim dari sektor limbah.

Selain itu, untuk meningkatkan kapasitas pemerintah dan lembaga lokal/masyarakat Indonesia untuk memahami, merencanakan, dan melakukan kegiatan mitigasi dampak perubahan iklim di sektor limbah.

Pasar hingga Rumah Sakit Jadi Komponen Penilaian Adipura

hikmat ginanjar
BANDUNG – Kesuksesan Kota Bandung mempertahankan Piala Adipura untuk kedua kalinya bukanlah pekerjaan yang mudah.

Menurut Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung Hikmat Ginanjar, penilaian Adipura tidak hanya terfokus pada satu komponen saja.

Hikmat menyebutkan, sejumlah komponen yang dinilai, di antaranya perumahan, terminal, pasar, perkantoran, sekolah, rumah sakit, dan lain sebagainya.

“Jadi, tidak hanya satu komponen, melainkan banyak komponen yang menjadi indikator penilaian Adipura,” ujar Hikmat, Selasa (27/6).

Menurutnya, Piala Adipura menjadi motivasi bagi pihaknya untuk terus meningkatkan kinerja. Dia juga menyatakan, keberhasilan Kota Bandung mempertahankan Adipura sebagai kemenangan semua pihak yang peduli terhadap lingkungan.

“Mulai dari kebersihan lingkungan di tingkat RT, RW hingga tingkat kota. Semuanya peduli untuk membuat hunian yang asri dan nyaman,” tuturnya.

Selain banyaknya komponen yang dinilai, tim penilai Adipura pun menjadikan inovasi pengelolaan lingkungan sebagai indikator penilaian lainnya. Disebutkan Hikmat, kendaraan penyiram tanaman yang kini dimiliki setiap kelurahan di Kota Bandung sebagai salah satu contoh inovasi tersebut.

Meskipun begitu, Hikmat mengakui, ada pula komponen yang menjadi kendala dalam upaya mempertahankan Adipura, salah satunya keberadaan tempat pembuangan akhir (TPA) yang belum dimiliki Kota Bandung.

Seperti diketahui, hingga saat ini, Kota Bandung masih mengandalkan TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang pengelolaannya berada di tangan Badan Pengelolaan Sampah Regional Jawa Barat.

“Kendala lainnya adalah masih adanya pihak-pihak yang membuang limbah sembarangan, itu pun mempengaruhi penilaian,” katanya.

Raih Adipura, Emil Akan Fokus Benahi Sungai hingga Akhir 2016

ridwan kamil adipura 2016
BANDUNG – Pasca menerima Piala Adipura untuk yang kedua kalinya, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menyatakan, Pemkot Bandung akan fokus membersihkan sungai hingga akhir tahun ini.

Seperti diketahui, Jumat (22/7), Wali Kota yang akrab disapa Emil itu menerima Piala Adipura yang diserahkan langsung Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Emil menjelaskan, pembenahan sungai dilakukan untuk meminimalisasi banjir serta genangan air yang kerap terjadi di sejumlah titik saat hujan mengguyur kota berjuluk Parijs Van Java ini.

Selain pembenahan sungai, pihaknya pun akan tetap fokus melanjutkan upaya pengelolaan sampah. Terlebih, hingga kini, Kota Bandung masih mengandalkan tempat pembuangan akhir (TPA) Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat (KBB).

“Target tahun ini sampai akhir tahun difokuskan di sungai. Kalau itu beres, tambah PLTSA (pembangkit listrik tenaga sampah) sebagai ujung dari akses sistem persampahan,” sebut Emil, Senin (25/7).

Lebih jauh Emil mengatakan, keberhasilan Kota Bandung mempertahankan Piala Adipura, menjadi indikator keberhasilan semua pihak.

Menurutnya, penghargaan bergengsi di bidang lingkungan hidup itu pun menjadi bentuk adanya perubahan ke arah yang lebih baik di Kota Bandung dalam dua tahun terakhir kepemimpinannya.

“Alhamdulillah, ini kali kedua Kota Bandung dapat Adipura. Ini menunjukkan ada konsistensi dan perubahan, walaupun masih ada hal yang kurang,” akunya.

Emil juga menyatakan, pihaknya siap menerima saran dan kritik demi kemajuan Kota Bandung. Bahkan, Emil mengaku akan menerimanya dengan lapang dada.

“Tidak betul kalau memandang Bandung sudah perfect, tapi keliru jika menganggap tidak ada perubahan. Jadi bagi pengkritik dari mana saja, kami terima lapang dada. Kami akan buktikan dengan kerja, bukan dengan bantah-bantahan,” katanya.

Walhi Dorong Pemkot Bandung Wujudkan Instalasi Pengolahan Sampah Berwawasan Lingkungan

walhi
BANDUNG – Organisasi lingkungan hidup independen Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat mendorong Pemkot Bandung untuk mewujudkan pembangunan instalasi pengolahan sampah terpadu berwawasan lingkungan.

Seperti diketahui, Pemkot Bandung bersama Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan berencana membangun pusat pengolahan sampah terpadu dengan memanfaatkan teknologi biodigester berkapasitas hingga 200 ton sampah per hari.

Rencana tersebut juga merupakan bagian upaya strategis yang dicanangkan Pemkot Bandung dalam pengelolaan sampah dan desentralisasi pengolahan sampah dimana sampah akan dikelola dalam skala yang lebih kecil.

Ketua Walhi Jabar Dadan Ramdan mengapresiasi kebijakan Pemkot Bandung tersebut. Menurutnya, teknologi biodigester merupakan salah satu upaya pengolahan sampah berwawasan lingkungan.

“Harus ada upaya-upaya strategis dan kita mendukung itu. Kalau Pemerintah Kota Bandung membangun desentralisasi dengan skala yang lebih kecil, kita apresiasi itu. Itu menjadi upaya yang harus didukung terus,” tutur Dadan, Senin (25/7).

Oleh karena itu, pihaknya mendorong Pemkot Bandung untuk mewujudkan pembangunan instalasi pengolahan sampah berwawasan lingkungan tersebut. Dia pun yakin, APBD Kota Bandung mampu memberikan dukungan untuk mewujudkannya.

“Sekarang tinggal tunggu saja aksinya,” ucap Dadan.

Lebih jauh Dadan mengatakan, mengacu pada Undang-Undang Nomor 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, pihaknya pun akan terus memberikan dorongan kepada Pemkot Bandung untuk mewujudkan pengelolaan sampah terpadu dan berkepanjangan.

“Skala penanganan sampah harus jangka panjang. Tidak bisa sporadis, tentatif, apalagi responsif, tapi harus dalam rangka membangun sebuah kota berkelanjutan,” terang Dadan.

Selain memanfaatkan teknologi biodigester, Dadan pun mendorong Pemkot Bandung terus mengedukasi warganya agar membudayakan pengolahan sampah berwawasan lingkungan, seperti konsep 3 R (reduce, reuse, recycle/daur ulang sampah) maupun komposting dalam upaya desentralisasi pengolahan sampah.

“Jadi, jangan hanya ada alat, Pemkot Bandung harus memberikan pendampingan. Ini adalah modal untuk mengubah perilaku dan sikap warga. Anggaran pun harus mendukung upaya pendampingan ini,” pungkasnya.

Meski Belum Maksimal, Walhi Jabar Nilai Sudah Ada Upaya Perbaikan

walhi
BANDUNG – Upaya Pemkot Bandung dalam mewujudkan Kota Bandung yang bersih dan berwawasan lingkungan mulai mendapat apresiasi dari organisasi lingkungan independen Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi).

Meski dianggap belum maksimal, namun Walhi Jawa Barat menilai upaya-upaya perbaikan sudah dilakukan Pemkot Bandung di bawah kepemimpinan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil.

“Jika dibandingkan dalam dua tahun ke belakang, memang ada upaya-upaya yang dilakukan. Banyak program yang diarahkan untuk penanganan sampah di Kota Bandung,” ucap Ketua Walhi Jabar Dadan Ramdan, Senin (25/7).

Dadan menyebut, jalan-jalan protokol di Kota Bandung, pusat-pusat pemerintahan, dan sejumlah fasilitas publik kini relatif terlihat lebih bersih. Namun begitu, Dadan menganggap upaya tersebut belum maksimal karena kondisi yang sama belum terlihat merata di seluruh penjuru kota.

Disinggung soal prestasi Kota Bandung yang sukses mempertahankan Piala Adipura, Dadan mengatakan, jika parameternya dilihat dari seluruh kota, Kota Bandung sebenarnya belum layak mendapatkan Adipura. Pasalnya, di beberapa titik, masih saja terlihat adanya tumpukan sampah.

“Parameter penilaian Adipura itu kan dalam skala kecil, misalnya di kawasan pemerintahan, jalan-jalan protokol, dan fasilitas-fasilitas publik. Namun, memang ada upaya dari pemerintah, seperti jalan-jalan protokol dan pusat pemerintahan yang kini relatif lebih bersih,” jelasnya.

Lebih jauh Dadan mengatakan, yang menjadi pekerjaan rumah (PR) Pemkot Bandung saat ini adalah melegalkan usulan-usulan yang disampaikan masyarakat untuk mewujudkan Kota Bandung berwawasan lingkungan dalam bentuk peraturan wali kota (perwal).

“Sehingga, Kota Bandung sebagai kota berwawasan lingkungan bisa benar-benar terwujud,” tandasnya.

PD Kebersihan Surati 90 Wajib Retribusi Sampah Bermasalah

Deni Nurdyana Hadimin
BANDUNG – Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan Kota Bandung telah melayangkan surat peringatan kepada 90 wajib retribusi sampah yang dinilai bermasalah.

Direktur Utama PD Kebersihan Kota Bandung Deni Nurdyana Hadimin mengungkapkan, para wajib retribusi sampah yang bermasalah itu umumnya mengerjasamakan pengelolaan sampahnya kepada pihak ketiga dan tidak membayar retribusi sesuai aturan.

Deni menyebutkan, ke-90 wajib retribusi sampah yang disurati pihaknya, di antaranya pihak mall, hotel, restoran, dan kafe. Dalam surat disebutkan, mereka harus segera menaati aturan. Jika tidak digubris, PD Kebersihan tidak akan segan-segan memberikan tindakan tegas, yakni menutup TPS bagi mereka hingga pencabutan izin mendirikan bangunan (IMB).

“Kami memberi batas waktu hingga Senin (25/7) bagi mereka untuk menyelesaikan persoalan. Jika tidak, maka ancaman tak bisa mengirim sampah ke seluruh TPS di Bandung hingga pencabutan IMB terpaksa akan dilakukan,” tegas Deni, Kamis (22/7).

Deni menjelaskan, langkah tegas itu dilakukan agar seluruh wajib retribusi sampah di Kota Bandung menaati aturan yang berlaku. Menurut Deni, pencabutan IMB akan sangat berpengaruh bagi wajib retribusi sampah, khususnya sektor komersil. Pasalnya, saat ini, IMB harus mencantumkan syarat rekomendasi PD Kebersihan dalam hal pengelolaan sampah.

Ditambahkan Deni, aturan retribusi sampah mengacu pada Peraturan Wali Kota (Perwal) Nomor 316/2013 tentang Tarif Jasa Pengelolaan Sampah. Di Kota Bandung sendiri, kata Deni, terdapat 8.278 wajib retribusi sampah yang dikenai tarif retribusi sebesar Rp60.000 per meter kubik sampah.